ECOENZYME DAN PERILAKU RAMAH LINGKUNGAN

0
39

Sampah rumah tangga merupakan permasalahan bagi sejumlah warga, namun ternyata sampah tersebut bisa disulap menjadi produk yang bernilai ekonomis. Dibantu tim dosen Universitas Sebelas Maret Surakarta yaitu, Prof. Dr. Ir MMA Retno Rosariastuti, M.Si, Ir. Sumani, SP.MP dan Dr. Ir. Widyatmani Sih Dewi, MP melakukan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) bagi warga Kecamatan Banjarsari Kota Surakarta. Pelatihan dalam rangka peningkatan pengetahuan melalui pemanfaatan sampah organik yang ramah lingkungan. Pada pelatihan ini tidak hanya mengolah sampah organik namun juga sampah plastik. Pelatihan dilakukan 2 kali yang pertama berupa pelatihan mengolah limbah plastik menjadi kerajinan dan yang kedua pelatihan pembuatan ecoenzyme. Dalam pelatihan ini, Tim dosen UNS juga membagikan semkit berupa alat dan bahan membuat kerajinan dari sampah plastik dan tong untuk membuat ecoenzyme.

Menurut ketua tim Prof Retno Rosariastuti, pada hari Selasa (6/7/2021) tujuan pelatihan memberikan pengetahuan kepada masyarakat untuk memanfaatkan sampah rumah tangga dengan cara mengolahnya menjadi produk yang bermanfaat. Pembuatan ecoenzyme dapat dimanfaatkan sebagai hand sanitizer, pupuk cair, desinfektan dan lain-lainnya. “Kami telah menyuarakan kegiatan pembuatan ecoenzyme sejak Januari, baik dalam kegiatan webinar maupun pendampingan langsung ke warga seperti PKM ini, adanya sampah organik yang banyak dan mudah ditemukan disekitar kita, tentunya penggunaan ini akan membantu mengurangi sampah yang di ditimbulkan dari rumah tangga atau lingkungan.”

Dijelaskan Prof Retno, adapun beberapa manfaat Eco Enzyme antara lain membantu mengurangi limbah atau sampah organik basah sehingga zero waste serta membantu menyadarkan masyarakat pentingnya penggunaan pembersih rumah tangga termasuk disinfektan yang ramah lingkungan. Dijabarkan Prof Retno bahan dasar pembuatan Eco enzym diantanya sampah kulit buah yang lunak atau sayuran yang masih segar (bukan sampah yang sudah busuk), misalnya : kulit jeruk, pisang, pepaya, mentimun dsb. Sebagai penambah aroma dapat diberi daun pandan, daun mint dan lain-lain. Guna mendapatkan aroma yg khas, gunakan satu jenis bahan dalam setiap pembuatan, bukan bahan campuran. Air yg digunakan sebaiknya air sumur bukan air PDAM. Gula yg digunakan sebaiknya gula merah atau molase (tetes tebu). Jika tidak ada baru gunakan gula pasir. Volume air maksimal dalam satu wadah adalah 60% dari volume wadah. Sebagai pedoman untuk wadah dengan volume 10 liter, maka maksimum volume air adalah : 6 liter (= 10 bagian), gula : 600 gr (1 bagian) dan sampah  : 1800 gr (3 bagian).  “Cara pembuatan yaitu bersihkan wadah dari sisa bahan kimia, ukuran volume wadah, isi air sebanyak 60% dari volume wadah masukkan gula sebanyak 10% dari volume air yang dimasukkan lanjut masukkan potongan sisa kulit buah yaitu 30% dari berat air lalu aduk hingga merata. Kemudian tutup rapat, beri  tanggal pembuatan, selama 1 bulan pertama dilakukan pembukaan penutup wadah secara perlahan guna melepaskan gas yang terbentuk dan dilakukan pengadukan setiap hari dengan durasi sekitar 10 – 15 menit. Setelah itu wadah ditutup rapat selama 2 bulan. Pada akhir bulan ke 3 (hari ke 90), eco enzym siap dipanen. Pemanenan dengan cara disaring menggunakan penyaring yang diberi kain. Cairan bening hasil penyaringan inilah yang disebut eco enzym ” ujar Prof Retno

Aroma eco enzym yang terbentuk seperti bau tape yang kuat. Jika aromanya busuk, berarti prosesnya mengalami kegagalan. Ampas sisa penyaringan dapat digunakan sebagai pupuk organik atau dapat digunakan sebagai starter dalam pembuatan pupuk organik. Berikut beberapa cara pemanfaatan eco enzym :

  1. untuk pembersih lantai, pencuci piring, pembersih peralatan dapur : 100 ml EE + 1000 ml air bersih, dicampur merata.
  2. pembersih kaca : 60 ml EE + 40 ml air bersih
  3. mencuci pakaian: EE + sabun + air : 1 ml EE + 1 ml sabun cair + 500 ml air.
  4. untuk pupuk tanaman : 30 ml EE + 2 liter air. Cara pemakaian dengan disemprotkan pada tanah atau langsung ke tanaman.
  5.  untuk pengusir hama/serangga : 15 ml EE + 500 ml air. Semprotkan ke area target
  6. untuk membersihkan keramik di kamar mandi : gunakan EE murni
  7. untuk hand sanitizer : 1 ml EE + 400 ml air
  8. untuk antiseptik : pembersih luka, bisul, tergores, luka bakar, alergi (gatal2) : EE murni
  9. untuk pembersih air : EE murni. 1 liter EE murni dapat membersihkan 1000 liter air sungai
  10. untuk mencuci buah/sayuran (menghilangkan pestisida) : 5 ml EE + 1500 ml air.
  11.  untuk detoks tubuh : 30 ml EE + 15 ml air hangat, suhu 30 – 40 derajat Celsius. Cara penggunaan : rendam kaki dalam ember berisi larutan campuran EE tsb
  12. untuk obat kumur : 10 ml EE + 1/2 gelas air
  13. untuk sabun mandi : EE + sabun + air : 1 ml EE + 1 ml sabun mandi cair + 5 sampai 10 ml air

Dengan Eco Enzym, kita dapat menciptakan budaya hidup bersih dan sehat serta mendukung tujuan terciptanya zero waste pada kehidupan manusia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five × one =