Pengembangan Agroforestri Pada Lahan Kering Sekitar Hutan Sebagai Rintisan Alasombo, Kab. Sukoharjo, Menjadi Sentra Porang Amorphophallus muelleri Blume
Selasa, 10 Nov 2020, 09:18:54 WIB - 359 View

Pengembangan Agroforestri Pada Lahan Kering Sekitar Hutan Sebagai Rintisan Alasombo, Kab. Sukoharjo, Menjadi Sentra Porang Amorphophallus muelleri Blume

Tim Pengabdi: Dr. Ir. Widyatmani Sih Dewi, M.P. ; Prof. Dr. Agr. Sc. Ir. Vita Ratri Cahyani, M.P. ; Dr. Mujiyo, SP., M.P

https://youtu.be/ujcb-xuUW4w

Alasombo merupakan salah satu desa di Kec. Weru, Kab. Sukoharjo dengan luas wilayah sekitar 460 ha atau ± 10,96% dari luas wilayah kecamatan. Desa ini memiliki kepadatan penduduk terendah yaitu 752 jiwa/km2 (BPS Kab. Sukoharjo, 2019), dengan matapencaharian utama adalah petani atau pekebun (Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukoharjo, 2018). Fisiografi desa Alasombo adalah berombak hingga berbukit-bukit dengan batuan induk batu kapur, sehingga mayoritas lahan berupa lahan kering sub optimal. Penggunaan lahan pertanian di desa ini terutama adalah non-sawah seluas 366 ha yang terdiri atas: tegalan 40 ha, pekarangan 194 ha, hutan rakyat 125 ha, dan 7 ha penggunaan lahan lain, sedangkan luasan sawah hanya 94 ha. Lahan pekarangan, tegalan dan hutan rakyat ditanami beraneka jenis pohon, terutama adalah jati, mahoni dan sengon (Gambar 1).

Gambar 1. Contoh penggunaan lahan tegal di Alasombo yang ditanami beraneka pepohonan.

Ketersediaan air untuk pertanian merupakan pembatas utama dalam budidaya pertanian di Alasombo. Data curah hujan pada tahun 2017 sebesar 2.266 mm, turun menjadi 1.522 mm pada tahun 2018. Pada tahun 2017 hanya ada satu bulan yang tidak ada hari hujan yaitu bulan Agustus sedangkan pada tahun 2018 terdapat hampir 6 bulan tidak terjadi hujan yaitu pada bulan Mei hingga Oktober (BPS Kab. Sukoharjo, 2019). Kondisi ini berpotensi akan menjadi lebih parah tahun-tahun ke depan karena perubahan iklim.

Porang (Amorphophallus muelleri Blume) merupakan tanaman semak yang menghasilkan umbi yang mengandung glukomanan, yaitu serat alami larut air sebagai bahan baku industri dan kosmetik. Tanaman ini merupakan tanaman khas tropis yang banyak ditemukan di hutan ataupun di bawah pohon. Sejak 2015, porang menjadi viral karena keberhasilan Bapak Paidi, seorang pemulung dari desa Kepel, Kec. Kare, Kab. Madiun, berhasil membudidayakan porang dan menjadi seorang milyader. Saat ini porang menjadi komoditas ekspor dengan nilai jual yang tinggi. Selain itu, permintaan ekspor porang masih belum terpenuhi, sehingga porang berpeluang untuk dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Porang merupakan tanaman yang suka naungan sehingga dapat dibudayakan di bawah tegakan pohon secara agroforestri. Agroforestri merupakan sistem budidaya  dengan memadukan antara pohon dengan tanaman pertanian, cocok dikembangkan di lahan kering seperti Alasombo untuk meningkatkan kesejateraan petani.

Kegiatan PKM ini bertujuan untuk mendampingi masyarakat desa Alasombo dalam budidaya porang sebagai rintisan dalam mewujudkan Alasombo sebagai sentra porang di Kab. Sukoharjo. Kegiatan PKM ini bermitra dengan: (1) Kelompok tani Agro Satria Alam Sincan Tua Indonesia (ASSTI) dan (2) Karang taruna Mekar Santoso dusun Bende, Alasombo, Kec. Weru, Kab. Sukoharjo. Metode yang digunakan adalah focus group discussion (FGD) (Gambar 3), praktik budidaya (Gambar 5), dan evaluasi. Tim pengabdi memberikan bantuan bibit dan pupuk kandang, serta pendampingan cara budidaya porang, sedangkan mitra membantu menyediakan sebagian lahan (Gambar 3) dan juga tenaga kerja penanaman dan pemeliharaan.

Gambar 2. Lahan kering di bawah naungan pohon di dusun Bende, Alasombo disiapkan untuk penanaman porang

Hasil FGD menunjukkan bahwa sekitar 95% (n = 30 orang) masyarakat di Alasombo belum membudidayakan porang sehingga kebanyakan dari mereka belum tahu bagaimana cara budidaya porang. 47,8% responden juga menyatakan bahwa mereka belum tahu bahwa porang merupakan komoditas pertanian dengan nilai tinggi. Mayoritas responden (93%) belum tahu dan baru tahu setelah mendapatkan sosialisasi dari Tim Pengabdi, bahwa sifat fisik, kimia, dan biologi tanah akan mempengaruhi perumbuhan dan hasil porang. Dari hasil evaluasi ini menunjukkan pentingnya transfer informasi dan teknologi oleh Tim Pengabdi dari perguruan tinggi kepada masyarakat, serta mendampingi mereka secara langsung dalam budidaya porang.

Gambar 3. Peserta focus group discussion (FGD) anggota kelompok tani ASSTI dan karang taruna Mekar Santoso

Setelah mendapatkan sosialisasi tentang budidaya porang, kedua kelompok tani mitra melakukan praktik budidaya porang dengan didampingi tim pengabdi. Bibit yang ditanam adalah bibit dari umbi porang katak (bulbil).

Gambar 4. Umbi porang yang dihasilakn dari ketiak daun porang (umbi katak atau bulbil) yang digunakan sebagai bibit

Penanam porang baru dapat dilaksanakan pada pertengahan Oktober 2020 karena menunggu hujan turun cukup lebat sehingga mampu membasahi tanah. Panen porang baru akan dilakukan setelah tanaman porang beumur 8 bulan (tahun 2021) sehingga pada kegiatan PKM tahun ini evaluasi terhadap peningkatan nilai ekonomi belum dapat dilakukan.

Referensi

Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukoharjo. 2018. Statistik Potensi Desa Kabupaten Sukoharjo 2018. BPS Sukoharjo. ISBN: 978-602-6858-89-4

Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukoharjo. 2019. Kecamatan Weru Dalam Angka 2019. https://sukoharjokab.bps.go.id