Partisipasi PRODI ILMU TANAH FAPERTA Dalam The 4th Indonesian Climate Change Expo, Jakarta

embung 2

Universitas Sebelas Maret Surakarta, melalui Riset Grup Perubahan Iklim dan Pengelolaan Sumberdaya Lahan, yang berbasis di Program Studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian UNS berpartisipasi dalam The 4th Indonesian Climate Change Expo yang diselenggarakan oleh Dewan Nasional Perubahan  Iklim (DNPI), di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta tanggal 1-4 Mei 2014 lalu.Konsep yang ditawarkan dalam expo kali ini adalah upaya adaptasi perubahan iklim bagi pertanian tadah hujan dengan “Embung Mini” untuk memanen hujan dan limpasan permukaan (runoff) dari lahan-lahan berterasering.  Untuk memudahkan penjelasan dan agar audiens dapat lebih mudah memahami, maka dibuatlah maket teras-teras sawah, “Embung Mini”,  berikut simulasi hujan dengan nozzle.

Pada saat turun hujan, kita lihat seringkali air terbuang percuma dalam jumlah yang cukup banyak.  Padahal, saat beberapa hari tidak turun hujan, pertanian lahan tadah hujan kerapkali terkendala air yang tidak tersedia atau tidak mencukupi untuk mengairi tanaman. Sebenarnya,air yang terbuang saat hujan tersebut dapat ditampung sebagai simpanan air untuk menghadapi “anakan kemarau”.  Anakan kemarau merupakan fenomena cuaca ekstrim di mana hujan tidak turun selama seminggu atau lebih berturut-turut, dan akhir-akhir ini frekuensinya semakin meningkat. Keberadaan “Embung Mini” sangat membantu petani mencegah atau meminimalisasi terjadinya puso.  “Embung Mini” berukuran 5 m (lebar) × 25 m (panjang) × 1,5 m (kedalaman), berupa kolam besar yang dibuat pada salah satu teras pada posisi ketinggian di tengah-tengah. “Embung Mini” efektif untuk wilayah tangkapan hujan 0,5-1 ha, dan mengairi hampir setengah hektar padi saat terjadi anakan kemarau, demikian penuturan Komariah, STP. MSc. PhD., staf dosen di Prodi Ilmu Tanah sekaligus ketua riset grup perubahan iklim dan sumberdaya lahan.  “Embung mini” ini sendiri merupakan proyek penelitian kerjasama antara UNS dengan Gifu University, Jepang melalui skim hibah penelitian bileteral DIKTI dan Japan Society for the Promotion of Science (JSPS).

The 4th Indonesian Climate Change Expo tersebut diikuti oleh lebih dari 25 instansi pemerintah dan swasta, baik besar maupun kecil, seperti Pertamina, BMKG, BATAN, PLN, JICA, Departemen Kehutanan, Departemen Kesehatan, Djarum Foundation, Daihatsu, dan sebagainya. Universitas yang berpartisipasi hanya 2, yaitu UNS dan Bina Nusantara, sehingga partisipasi Prodi Ilmu Tanah UNS pada event ini menjadi suatu kebanggaan tersendiri.  Dari sekitar total pengunjung  sekitar 81 ribu orang selama 4 hari tersebut, booth/ stand pameran dari UNS berhasil menarik 689 pengunjung, dengan jumlah pengunjung tertinggi pada tanggal 3 Mei yaitu 251 pengunjung.  Pengunjung adalah masyarakat umum, siswa sekolah, mahasiswa dan karyawan dari instansi negeri maupun swasta. Umumnya pengunjung bertanya-tanya cukup antusias mengenai konsep “Embung Mini”, memberikan masukan-masukan dan mengajak untuk bekerjasama.  Semoga tahun depan UNS dapat berpartisipasi kembali di The 5th Indonesian Climate Change Expo.

Berikut dokumentasi Prodi Ilmu Tanah Faperta,  Universitas Sebelas Maret Surakarta dalam The 4th Indonesian Climate Change Expo, Jakarta :

embung 1 embung 3 embung 4 embung 5