Category Archives: Berita

Komariah ( Dosen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UNS ) : Swadaya Embung

Wilayah Jawa Tengah, terutama Karesidenan Surakarta akhir-akhir ini tidak tersentuh hujan lantaran musim kemarau.  Padahal, BMKG melalui laman resminya memperkirakan 76 persen wilayah Indonesia baru akan memasuki musim hujan sekitar Oktober – November mendatang, termasuk Jawa Tengah.
Selain itu  BMKG juga mengumumkan bahwa tingkat ketersediaan air tanah di wilayah Karesidenan Surakarta sangat minim, kurang dari 20 persen. Hanya sebagian kecil yang memiliki ketersediaan air sampai dengan 40 persen dari ketersediaan air rata-rata tahunan.  Sedangkan wilayah Jawa Timur hampir seluruhnya tidak memiliki tingkat ketersediaan air tanah lagi.
Hal itu berarti sebagian besar wilayah Karesidenan Surakarta, terutama yang berbatasan dengan Jawa Timur, terkena dampak kemarau berupa kekeringan sampai memasuki musim hujan yang baru akan datang sekitar 1-2 bulan lagi.  Dampak ini sudah mulai dirasakan oleh sebagian warga di Kabupaten Sragen dan Wonogiri, yang sudah bergantung pada pengiriman air bersih dari wilayah lain untuk kebutuhan hidup sehari-hari.  Mengapa kekeringan di wilayah ini dari tahun ke tahun dampaknya semakin meluas dan intensif?
Dilihat dari aspek topografi atau bentang lahan, wilayah Karesidenan Surakarta sebagian besar merupakan wilayah hulu dan tengah dari sungai Bengawan Solo, yang seharusnya sebenarnya merupakan wilayah dengan pengisian air tanah yang baik karena masih dekat dengan pegunungan.  Mengingat wilayah pegunungan merupakan wilayah yang sangat berperan dalam pengisian air tanah (groundwater) tidak saja air tanah pada wilayah hulu, namun juga air tanah sampai wilayah hilir  dengan mengaliri sungai-sungai bawah tanah di sepanjang wilayah itu.
Saat ini fenomena eksploitasi air tanah yang semakin tidak terkendali membuat “tabungan” air tanah dari jutaan tahun lalu tersebut terkuras secara drastis. Sektor pertanian yang tadinya dioptimalkan hanya memanfaatkan air permukaan dari waduk atau sungai saja untuk kebutuhan pengairannya, lima tahun terakhir ini justru semakin intensif menyedot air dari baik sumur dangkal maupun dalam (deep well) untuk mengairi sawah-sawah.
Sehingga FAO melaporkan bahwa sektor pertanian saja telah mengambil porsi 75 persen dari air tanah untuk irigasi.  Padahal air tanah adalah air dengan kelas kualitas yang paling tinggi yang seharusnya penggunaannya untuk keperluan air minum.  Sedangkan air untuk irigasi bisa menggunakan kelas kualitas di bawahnya.  Jika terus dibiarkan, hal ini akan mengancam ketersediaan air bersih di masa depan, mungkin tidak hanya musim kemarau tapi juga di musim hujan, bahkan di wilayah pegunungan sekalipun.
Faktor lain yang mengancam intensifnya bencana kekeringan di wilayah ini adalah alih fungsi lahan yang terus terjadi. Wilayah Tawangmangu yang merupakan wilayah atas yang berfungsi sebagai kawasan hutan, yang kini menjadi terbuka dan tererosi.  Hal itu menyebabkan wilayah gunung semakin kehilangan fungsinya sebagai wilayah “pengisi” air tanah ketika musim hujan tiba.
Peningkatan populasi dan era industrialisasi yang menuntut penambahan pemukiman dan semakin berkembangnya kawasan industri memperparahnya dengan semakin terdegradasinya tanah dan tertutupnya permukaan tanah yang menghalangi proses infiltrasi air. Malah sebaliknya eksploitasi air tanah pada wilayah ini semakin besar.  Hal terakhir yang menambah parah ancaman bencana kekeringan adalah fenomena perubahan iklim, di mana suhu udara semakin meningkat yang mengakibatkan semakin tingginya penguapan.  Hal itu dapat memicu semakin besarnya kehilangan air tanah, bahkan pada sebagian wilayah di Afrika mengakibatkan penggurunan, yaitu berubahnya suatu wilayah menjadi gurun yang tandus.
Beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi kekeringan yaitu dengan meningkatkan penggunaan air permukaan untuk pertanian. Para petani perlu di dorong untuk berswadaya membuat embung di setiap lahan yang dimilikinya.  Sehingga ketika turun hujan, air dapat “ditabung” dan digunakan untuk irigasi kembali secara cepat jika air kurang.  Kedua adalah dengan mengimplementasikan kembali kearifan lokal untuk pertanian, yaitu tidak memaksakan tanam jika air tidak cukup, tapi mengganti dengan jenis tanaman yang tidak perlu air banyak atau bahkan memberakan (mengistirahatkan) saja tanahnya sementara sampai hujan.
Selanjutnya perlu diupayakan pembatasan pengalihan fungsi lahan dari kawasan hijau menjadi pertanian, pemukiman atau industri, yang akan membantu meningkatkan kembali pengisian air tanah saat hujan sekaligus mengurangi pemanasan udara karena dampak perubahan iklim.  Banyak cara secara individu yang dapat dilakukan juga seperti membuat biopori-biopori pada pekarangan rumah, menampung air dari atap, dan memberi kesadaran kepada setiap anggota keluarga akan pentingnya penggunaan air secara hemat dan efisien.
Pengimplementasian strategi di atas memerlukan pendorong, pendamping dan pengawas.  Di sinilah peran strategis kampus diperlukan, untuk menerapkan program-program dalam pengejawantahan strategi tersebut. Misalnya edukasi baik kepada mahasiswa melalui kuliah-kuliah yang disampaikan atau berupa penyuluhan kepada masyarakat, hingga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya peran setiap individu dan kelompok. Kemudian memotivasi untuk mau berperan secara partisipatori, sambil terus mendampingi implementasinya melalui program-program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Hingga mengevaluasi kekurangan-kekurangan dalam pengimplementasian program-program tersebut dan meningkatkannya lagi melalui riset-riset interdisiplin yang terstruktur.

Sumber : https://dok.joglosemar.co/baca/2017/09/11/komariah-dosen-ilmu-tanah-fakultas-pertanian-uns-swadaya-embung.html

Soil Study Banding dan Soil Travel Mahasiswa Prodi Ilmu Tanah

40 mahasiswa Program Studi Ilmu Tanah Fak. Pertanian UNS mengikuti kegiatan Soil Study Banding dan Soil Travel. Kegiatan inidikuti oleh 40 mhs terdiri dari 2013 sejumlah 25 mahasiswa, angkatan 2014 sejumlah 11 mahasiswa dan angkatan 2015 sebanyak 4 mahasiswa

Dosen Prodi Ilmu Tanah Mengikuti Pelatihan Menulis Artikel Opini di Media Masa

Salah satu dosen Prodi Ilmu Tanah Dr Joko Winarno pada  tanggal 22-23 Februari 2016 mengikuti Pelatihan Menulis Artikel Opini di Media Masa yang diselenggarakan oleh Lembaga Pelatihan Jurnalistik SoloPos. Pelatihan diikuti oleh 19 peserta. Peserta berasal dari perseorangan, Pemda, Guru SMA/SMP, Pesantren, Dishubkominfo dan Perguruan Tinggi.

PELATIHAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK SISWA SMA ATAU SEDERAJAT (Hari Kedua)

Setelah pelaksanaan pelatihan pada hari pertama (20 Februari 2016) berjalan dengan lancar, maka pada hari Minggu (21 Februari 2016) Kegiatan Pelatihan SIG untuk Siswa SMA atau Sederajat dilanjutkan kembali.

PELATIHAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK SISWA SMA ATAU SEDERAJAT (Hari Pertama)

Program studi Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UNS Surakarta menyelenggarakan acara Pelatihan Sistem Informasi Geografi (SIG) bagi siswa Sekolah Menengah Atas atau Sederajat. Kegiatan pelatihan ini mengundang 40 sekolah di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur serta dilaksanakan selama 2 hari mulai Sabtu, 20 Februari 2016 sampai dengan Minggu, 21 Februari 2016. Sebagai trainer adalah para mahasiswa Program Studi Ilmu Tanah yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Ilmu Tanah (KMIT).

SINERGITAS DALAM PENDAMPINGAN KELOMPOK TANI

Salah seorang Dosen Prodi Ilmu Tanah yang bernama Joko Winarno yang ikut membidani berdirinya Kelompok Tani Anugrah dan Koperasi Serba Usaha Anugrah Jaya, Desa Ngadiluwih, Kec. Matesih, pada hari Sabtu (20 Februari 2016)  bersama-sama dengan pemerhati pertanian organik yaitu Bp. Sri Darmaji (pensiunan PNS, Ka-Bag Perekonomian Kab. Tegal) yang saat ini bertempat tinggal di Jl. Manga VI No. 39 Lamper Kidul Semarang, telah melaksanakan pendampingan kepada kelompok tani tersebut.

PENYULUH PERTANIAN ORGANIK DI DESA KLETEKAN, JOGOROGO, NGAWI

Pada hari Sabtu tg 6 Februari 2015 dua orang Dosen Program Studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian UNS Dr. Mujiyo. SP. MP dan Dr. Jauhari Syamsiyah memberikan penyuluhan tentang Pertanian Organik di Desa Kletekan, Jogorogo, Ngawi Jawa Timur.

BEASISWA MEXT DI GIFU UNIVERSITY BIDANG ILMU PERTANIAN DAN BIOTEKNOLOGI

Dalam rangka kerjasama antara Program Pascasarjana UNS dengan UGSAS-GU. UGSAS-GU menawarkan beawiswa Pascasarjana (double degree) untuk alumni UNS bersumber dari MEXT (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jepang : Monbukagakusho).

Info selengkapnya bisa dilihat pada edaran berikut :

3 DOSEN PRODI TANAH MENGIKUTI DIKLAT TRAINING OF TRAINER SEKOLAH LAPANG IKLIM

Sebanyak 33 orang peserta terdiri dari 30 orang pegawai BMKG UPT daerah dan 3 Dosen dari Program Studi Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UNS, ikut Pendidikan dan Pelatihan Training of Trainer Sekolah Lapang Iklim (ToT SLI) yang digelar Pusdiklat BMKG dari tanggal 25 – 29 Januari 2016, secara resmi dibuka oleh Sekretaris Utama BMKG Dr. Widada Sulistya, DEA bertempat di Gedung Serbaguna Citeko-Bogor, Selasa (26/1). 3 Dosen yang terpilih mengikuti kegiatan tersebut adalah :Ir. SUMANI M.Si, Dr.Ir. WIDYATMANI SIH DEWI M.P. dan KOMARIAH STP.,M.Sc.,Ph.D.

Contoh Upload Bukti Makalah Prosiding Seminar di IRIS1103

Makalah Prosiding Seminar ; Mujiyo, dkk..pdf

32. Makalah Prosiding Seminar ; Mujiyo, dkk._001